Selasa, 30 Juni 2009

Mengisi Liburan Dengan Ulur Kacang Ijo

menanam kacan hijau

Bagi sebagian anak-anak, mengisi liburan sekolah dengan pergi ke pusat-pusat hiburan dan rekreasi terkenal, seperti puncak, TMII, Ancol, pulau dewata dll adalah sangat menyenangkan. Tapi liburan ketempat seperti itu, tidak untuk anak-anak di desa wonoketingal. Liburan ke tempat seperti itu, adalah belanja yang sangat mewah untuk ukuran anak di desa ini. Butuh menabung yang lama, untuk mengumpulkan uang banyak agar bisa pergi ke lokasi wisata favorit.

Meskipun tidak pergi ke pusat-pusat rekreasi, bukan berarti liburan anak-anak sekolah ini tidak menyenangkan. Salah satu aktifitas anak sekolah di desa wonoketingal adalah ulur kacang ijo. Liburan sekolah yang bertepatan dengan musim tanam kacang ijo, dimanfaatkan anak dengan ikut ulur kacang ijo. Ulur kacang ijo adalah pekerjaan menanam tanaman kacang ijo, dengan teknik sebagai berikut: tanah dilubangi dengan alat yang diberi nama ceblok (kayu dengan diameter +/- 4cm dan tinggi sebahu orang dewasa yang ujungnya diruncingkan). Ceblok ditancapkan sedalam 5 - 8 cm kemudian dicabut sehingga meninggalkan bekas lubang, lubang inilah yang nantinya diberi biji kacang ijo sebanyak 3 biji. Menaruh biji kacang ijo inilah yang disebut dengan ulur kacang ijo, sedangkan aktifitas membuat lubangnya disebut nyeblok. Karena nyeblok dirasa berat dan butuh tenaga besar, maka nyeblok dilakukan oleh orang dewasa. Sedangkan ulur kacang ijo bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk anak-anak.

Anak-anak sangat suka mengisi liburan dengan ulur kacang ijo. Sebut saja Andi, dia kelihatan senang bisa ikut kegiatan cocok tanam yang satu ini. Sebab dia akan menadapat upah 15.000,- bilangan yang lumayan gede untuk ukuran anak seusia 10 tahun. Bila dia bisa ulur kacang ijo selama liburan penuh, diperkirakan dia akan meraup uang sebesar Rp 210.000, jumlah yang cukup besar untuk beli seragam, sepatu dan buku-buku sekolah yang baru.

Tidak Memberatkan Anak

Aktifitas ulur kacang ijo ini tidak memberatkan anak-anak, pasalnya pekerjaan ini dilakukan mulai jam 6.30 pagi hingga jam 10.00 siang. Sehingga tidak banyak menyita banyak waktu bermain anak-anak. Jam sepagi ini juga dirasa tidak menyiksa anak, sebab suhu udaranya tidak begitu panas.

Walaupun dianggap ringan, ternyata ada juga anak yang kelihatan sesekali mengeluh karena capek. Terutama saat menjelang jam 10.00, sebab mulai jam sembilan, sinar matahari memang mulai terasa panas. Selain rasa panas yang mulai menerpa, ternyata badan juga mulai pegal-pegal terutama di bagian pinggang dan punggung. Hal ini dikarenakan, saat ulur tubuh selalu menelungkup seperti orang rukuk.

Rasa capek dan pegal itu tak lama segera hilang seiring pekerjaan yang sebentar lagi mau selesai.

Manfaat Edukasi Agro

Ternyata selain bermanfaat menambah uang saku anak, pekerjaan ulur kacang ijo juga memberi manfaat edukasi anak dalam bidang agro. Anak bisa belajar bertani menanam kacang ijo. Mengikutkan anak dalam bercocok tanam kacang ijo secara langsung akan mengajari anak bagaimana teknik menanam kacang ijo yang benar. sehingga kelak ketika dewasa mereka tahu bagaimana bertani kacang ijo. Kan yo aneh.. Bapaknya petani, masak anaknya nggak tahu cara menanam kacang hijau.



Images Courtesy of :
bandarsampah.blogdetik.comKompas

Sabtu, 27 Juni 2009

Mempopulerkan Kampung Bule Di Soropadan

Siapa bilang hanya di Bali dan Jogja saja yang ada bulenya, di Demak juga ada bule. Tapi bule yang satu ini bukan orang luar negeri yang berkulit putih dan bertubuh jangkung. Bule ini adalah singkatan Jambu dan Lele. Budidaya jambu merah delima dan citra serta ikan lele, yang dilakukan oleh masyarakat desa Wonosari kecamatan Bonang menjadi populer dengan istilah Bule (Jambu +Lele). Oleh karena itu tidak salah jika wonosari disebut dengan kampung bule.

Kampung bule ini telah meraih predikat terbaik nomor satu di Jawa Tengah, bahkan baru-baru ini Kampung Bule didaulat menjadi wakil Jawa Tengah dalam Kompetesi Kampung Lele Nasional. Oleh karena itu tidak salah jika kampung yang mampu menghasilkan ikan lele tujuh ton perhari ini, menjadi harapan roda penggerak ekonomi demak. Setidaknya ada beberapa potensi yang bisa dikembangkan dari kampung Bule ini. Antara lain industri rumah tangga pengolahan lele (seperti keripik lele, abon lele, dendeng lele, sale lele), Wisata Edukasi Berternak Lele, Pemancingan dan Resto aneka masakan ikan. Penganan yang dihaslkan dari olahan lele ini juga menambah variasi kuliner demak yang bisa menjadi oleh-oleh khas Demak, sehingga memperkaya daya tawar pariwisata Demak.

Pameran Agrobisnis terakbar jawa tengah soropadan menjadi sarana yang tepat memperkenalkan demak kepada masyarakat, khususnya investor. Pameran yang digelar tahunnya yang diikuti seluruh kabupaten di jawa tengah menampilkan segala potensi pertanian dan perikanan daerah. Di sinilah produk-produk demak ditunjukkan. Apa saja yang bisa dikembangkan di demak.

Kendati pada hari pertama pameran, tansaksi hanya mencapi 3 juta saja, namun menurut Menurut Kabid Agrobisnis Kabupaten Demak Hari Adi Susilo tidak mempersoalkannya. Karena menurutnya, stand hanya bagian dari promosi dan manfaat terpenting adalah mempertemukan para investor agrobisnis dengan kelompok tani yang dibinanya.

Image Courtesy of Suara Merdeka

Kamis, 25 Juni 2009

Logo Demak Dan Artinya


Bentuk Lambang daerah Kabupaten Demak berupa perisai yang berbentuk dasar segitiga lengkung melambangkan pertahanan dan keamanan lahir dan batin.


Arti Logo dan Lambang Demak

Sebagaimana tercantum dalam Peraturan Daerah Kabupaten Demak tanggal 17 Agustus 1972 tentang Lambang Daerah Kabupaten Demak yang mengartikan makna motif-motif di dalam lambang dan pengapitnya sebagai berikut :

Lukisan bintang persegilima warna kuning emas melambangkan hasrat masyarakat Demak untuk mengamalkan Pancasila dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

Dasar biru dan kuning menunjukkan geografis daerah Kabupaten Demak adalah daerah pantai dan rawa, yang mana setiap tahun waktu musim penghujan terlalu banyak air dan musim kemarau sangat kekurangan air;

Masjid menunjukkan arti kebesaran Masjid Agung Demak sebagai hasil kebudayaan khas Demak;

Ruang masjid berjumlah 9 (sembilan) melambangkan tempat musyawarah Walisongo dan beringin melambangkan keadilan dan kebenaran serta penyayang;

Tombak berdiri tegak lurus melintas ke atas di tengah ruang masjid yang mengandung arti kepahlawanan revolusi 1945 melawan penjajahan;

Empat garis bergelombang laut berwarna biru menunjukkan bahwa Demak memiliki potensi hasil laut;

Perahu layar mengandung arti kepahlawanan armada pimpinan Adi Pati Unus;

Padi dan kapas menunjukkan arti potensi bahan baku sandang dan pangan;

Jumlah butir padi 17, kapas 8, gelombang laut 4 di setiap 5 garis putih, hal tersebut menunjukkan tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945


NB:
Dapatkan logo demak dalam bentuk vector. file vector ini memungkinkan anda mencetak logo demak dalam resolusi tinggi dan tidak terpecah pecah. Juga bisa memilih warna dan variasi logo demak yang bermacam-macam. file ini dibuat dengan software coreldraw 12. anda bisa membukanya dengan coreldraw 12 atau versi yang lebih tinggi. Klik link berikut: logo-demak.cdr

Sabtu, 20 Juni 2009

Theme Baru Untuk Demak-ku

Demak lover, saya sedang kesengsem ama template di bawah ini, template joomla ini mau saya ubah ke blogspot. mudah-mudahan bisa saya pakai di blog demak-ku ini.


Nama Template : GoodStar
Platform : Joomla CMS
Provider : http://www.joomla-templates.com/

Jumat, 19 Juni 2009

Demak masih dilirik Capres dan Cawapres


Dari ribuan kabupaten dan kodya di seluruh indonesia, demak menjadi pilihan capres Yusuf kalla dan cawapres wiranto dalam menyampaikan visi dan misinya. Meskipun dalam komunikasi politik, tebar pesona dan janji belum tentu akan mencerminkan sikap yang akan diambil kelak kemudian setelah menjadi presiden. Setidaknya kunjungan ini memiliki makna positif bagi kota yang tergolong miskin. Terlebih lokasi yang dipilih untuk dikunjungi adalah Pondok pesantren futuhiyah mranggen. Pondok pesantren yang menjadi langganan kunjungan pejabat baik dalam maupun luar negeri ini semakin mengukuhkan bahwa demak tak bisa dipandang sebelah mata.

Apa saja isi kampanye capres yusuf kalla di demak? berikut ini liputan dari media massa.

Metronews : http://www.metrotvnews.com/main.php?metro=berita&id=84922

Metrotvnews.com, Demak: Wakil Presiden Jusuf Kalla memerintahkan dilakukannya sertifikasi terhadap Pondok pesantren agar pemerintah bisa memberikan bantuan kepada para gurunya. "Nanti saya bikin sertifikasi pesantren. Jadi, tahu persis berapa gurunya, berapa santrinya. Yayasannya juga harus betul," kata Jusuf Kalla saat berdialog di Pondok Pesantren Fuluhiyah, Mranggen, Demak, Jawa Tengah, Jumat (19/6).

Kalla mengatakan itu menjawab pertanyaan seorang peserta dialog, Abdul Kholik Murod, yang mempertanyakan nasib para guru tidak tetap dan guru swasta di pesantren yang tidak diperhatikan pemerintah. Menurut Abdul Kholik, pemerintah hanya memperhatikan para guru Pegawai Negeri Sipil (PNS). "Anggaran pendidikan sudah 20 persen, mestinya negara tak hanya perhatikan PNS. Memang ini negara PNS saja," kata Abdul Murod.

Kalla menjelaskan, saat menjadi Menko Kesejahteraan Rakyat telah diambil kebijakan untuk mengangkat para guru bantu. Menurut Kalla, setidaknya sebanyak 150 ribu guru bantu diangkat menjadi PNS setiap tahunnya. Menurut calon presiden dari Partai Golkar dan Hanura itu, dengan sertifikasi terhadap pesantren akan diketahui dengan persis berapa gurunya, berapa yayasan dan siapa penanggungjawabnya. "Nanti dibantu negara melalui gubernur, tapi dananya dari pusat," kata Kalla.

Kalla optimistis akan bisa memberikan tunjangan yang layak kepada para guru swasta. Apalagi jika ekonomi Indonesia tumbuh sebesar delapan persen. "Kalau APBN bisa mencapai Rp 2.000 triliun, maka 20 persennya menjadi Rp 400 triliun. Itu sangat bisa untuk memberikan tunjangan guru-guru swasta," kata Kalla.

Dalam kesempatan itu Wapres juga menegaskan bahwa yang diperlukan bangsa Indonesia adalah

fondasi ekonomi yang kuat. "Kita harus capai kemandirian bangsa dengan memenuhi kebutuhannya sendiri," kata Wapres. Menurut Wapres untuk mencapai fondasi ekonomi yang kuat pesantren bisa mengambil peran. Misalnya mengembangkan ternak sapi, sehingga tidak perlu impor sapi, dan susu.
Tempo Interaktif: http://www.tempointeraktif.com/hg/Pemilu2009_janji_janji/2009/06/19/brk,20090619-182747,id.html

Kalla Umbar Janji Anggaran Pendidikan Rp 400 Triliun

Jum'at, 19 Juni 2009 | 10:41 WIB
TEMPO Interaktif, Demak: Kandidat presiden Jusuf Kalla berjanji menaikkan anggaran pendidikan hingga Rp 400 triliun untuk lima tahun mendatang. Kenaikan anggaran itu berdasarkan asumsi Anggaran Pendapatan Belanja Negara mencapai sekitar Rp 2.000 triliun.

"Insya Allah lima tahun lagi. Syaratnya pertumbuhan ekonomi delapan persen," kata Jusuf Kalla saat berdialog dengan warga di Pondok Pesantren Futuhiyah, Kecamatan Mranggen, Demak, Jawa Tengah, Jumat (19/6).

Saat ini, 20 persen APBN dialokasikan untuk anggaran pendidikan dari APBN 2009 yang mencapai lebih Rp 1.000 triliun. Artinya, anggaran pendidikan tahun ini berjumlah sekitar Rp 200 triliun.

Menurut Kalla, anggaran pendidikan untuk madrasah perlu ditingkatkan. Alasannya, madrasah dan institusi pesantren berperan penting dalam pendidikan masyarakat. "Insya Allah 5 tahun lagi untuk madrasah Rp 2-3 triliun," katanya.

Selain persoalan anggaran, pendidikan tak lepas dari kualitas pendidik. Untuk itu Kalla berjanji mengucurkan dana pendidikan untuk pesantren dengan syarat pesantren harus disertifikasi. Menurut dia, perlu ada pendataan dan verifikasi pengurus, guru, dan santri. "Yayasan harus jelas. Guru dan siswa disertifikasi. Nanti diberi anggaran dari pusat," katanya.

Dia berpendapat kontribusi sekolah umum dan pesantren sama. Namun, pesantren memiliki peluang mendidik lebih karena sistem sekolah berasrama. Sistem itu memungkinkan pengajar mendidik santri secara optimal.
Kalla pun meminta pesantren menjadi agen perubahan yang mengajarkan kebiasaan mandiri sehingga ekonomi bangsa ke depan ditopang oleh wirausahawan.
Image Courtesy of http://indonesian.cri.cn

Kamis, 18 Juni 2009

Wonosari, Desa Unggulan Produksi Lele

Bicara produk unggulan ekonomi demak, tidak melulu berupa belimbing, atau jambu merah delima dan jambu citra nya. Produk perikanan baik laut maupun darat telah lama menjadi andalan kabupaten demak. Salah satunya adalah budidaya Ikan Lele.

Bila anda seorang pengusaha makanan, atau pengusaha suplayer ikan lele, adalah tepat bila anda melirik ke desa Wonosari. Berikut ini adalah laporan budidaya ikan lele di Desa Wonosari yang saya salin utuh dari koran harian Suara Medeka kolom Demak edisi Selasa 16 Juni 2009.

DESA Wonosari, Kecamatan Bonang berada sekitar 7,5 kilometer dari Demak kota. Saat memasuki desa tersebut, ada patung lele ukuran besar di perbatasan desa. Sebagian besar jalannya telah dibangun dengan konstruksi beton bertulang.

Di sisi kanan dan kiri jalan terlihat petak-petak kolam ikan lele. Rumah warga juga banyak yang dikelilingi kolam berbagai ukuran. Setiap pagi warga disibukan dengan pemberian makan pada ikan yang memiliki ciri khas berkumis tersebut. Begitu pakan ditebar, ribuan lele pun berebut. Pemandangan demikian cukup menarik dan menjadi hiburan yang tidak ada duanya bagi petambak.

’’Perasaan ikut senang, karena banyaknya ikan yang berebut. Jadi, lebih bersemangat memberi pakan. Selain itu, adanya perebutan berarti mereka kondisnya sehat,’’ kata H Jamal, seorang petambak.

Tak jarang ia mengajak anaknya untuk melihat ikan ketika sedang diberi makanan berupa konsentrat. Di desa berpenduduk 2.000 jiwa lebih itu, menurut Ketua kelompok pembudi daya lele Sari Mina, Heru Eko Catur, terdapat 500 warga yang menggantungkan hidup pada tambak lele. Mereka memiliki lahan seluas 30 hektare dengan 1.500 kolam berbagai ukuran.
Lele dijadikan pilihan, karena memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik. Ikan ini bisa beradaptasi di air yang kondisinya keruh. Selain itu, permintaan pasar juga tidak pernah surut. Kebanyakan tengkulak datang sendiri dan mengirim ke warung-warung makan.

Catur menuturkan, pada tahun 1980-an, desanya tergolong daerah tertinggal. Selain perekonomian warga di bawah garis kemiskinan, sarana-prasarana desa tidak memadai. Kondisi semua ruas jalan rusak parah dan tidak ada akses komunikasi telepon. Hanya sebagian warga yang memiliki penerangan listrik.

Namun, pada tahun 1991 ia mencoba memanfaatkan lahan pekarangan yang tidak produktif untuk kolam. Tiga bulan melakukan perawatan dengan baik, ternyata hasilnya memuaskan. Hampir 98 bibit ikan yang dimasukkan bisa dipanen.

Dari tahun ke tahun, jumlah warga yang membudidayakan bertambah. Kini hampir sebagian besar mengandalkan penghasilan dari tambak air tawar. Setiap hari Desa Wonosari mampu memproduksi lele sebanyak tujuh 7 ton. Bahkan, belum lama ini menjadi desa petambak lele terbaik tingkat Jateng.

Tingkat kesejahteraan mereka makin bertambah seiring dengan langkah pengoptimalan lahan. Jika sebelumnya tanggul kolam dibiarkan ditumbuhi rumput, sekarang dipakai untuk tanaman jambu merah delima dan citra. Ternyata hasil dari tanaman jambu tidak kalah dengan hasil beternak lele.

’’Memang seperti berkah berlimpah, karena dalam satu lahan bisa menghasilkan dua kali pendapatan. Pengembangan jambu dan lele ini dikenal dengan istilah bule,’’ ujarnya.

Keripik dan Abon

Belakangan ini, inovasi terus dilakukan oleh warga sekitar. Jika biasanya hanya membudidayakan lele dan menjual ke tengkulak, mereka mengembangkan dengan usaha pascapanen. Seperti dengan membuat keripik lele, abon lele, dan lele panggang atau ikan asap.

Pengembangan usaha yang mulai diterapkan setelah mendapat bimbingan dan penyuluhan dari Dinas Kelautan dan Perikanan serta Dinas Perindustrian Perdagangan telah membuahkan hasil. Berbagai ikan siap konsumsi itu banyak diminati masyarakat.

Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Demak Ir Maryono MSi, pembudidayaan lele telah mengubah perekonomian Desa Wonosari. Perekonomian sebagian masyarakat mengalami peningkatan. Indikatornya antara lain perubahan mata pencaharian.

Sedikitnya ada 63 orang yang semula berprofesi sebagai petani dan buruh tani kini berubah menjadi pengusaha, kemudian 86 orang menjadi pedagang. Kepemilikan kendaraan bermotor termasuk mobil pada tahun 1990-an hanya sekitar 16 unit, kini menjadi 200 unit lebih. ’’Ada peningkatan SDM, karena setiap tahun 10 lebih warga meneruskan ke jenjang pendidikan S1,’’ paparnya.

Demikian juga warga yang menunaikan ibadah haji. Hampir setiap tahun sembilan orang berangkat ke Mekah untuk berhaji. (Hasan Hamid-37)

Report Courtesy of Suara Merdeka Selasa 16 Juni 2009.
Images Courtesi of www.arthazone.com

Selasa, 16 Juni 2009

Mempromosikan Potensi Demak

Kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri dan kerja di Semarang, membuatku bertemu dengan teman-teman yang berasal dari berbagai penjuru nusantara. Dalam sela - sela kerja, saat istirahat, atau waktu ngobrol santai, tak jarang saya membicarakan kondisi daerah masing masing. "Eh kamu dari demak ya.. " itulah pertanyaan dari seorang teman yang acapkali memicu pembicaraan lebih dalam dan luas tentang daerah asalku, demak, mulai dari kondisi geografis, letaknya dekat ini dan itu, sosial budayanya sampai yang terkenal dan yang khas di demak.

Topik masjid agung demak kerap kali menjadi obrolan yang menarik terutama oleh teman-teman dari luar jawa tengah, terlebih dari sumatra. Mereka penasaran sekali, seperti apasih Masjid agung demak itu. Nama masjid agung demak begitu familier di benak temen-temen karena masjid demak selalu menghiasi buku-buku sejarah islam di nusantara yang diajarkan di sekolah-sekolah. Para guru sejarah juga ustadz dapat dipastikan mereka mengisahkan Peran wali songo dan Kerajaan demak dalam menyebarkan agama islam. Dan yang menjadi bukti sejarah dan warisan fenomenal perkembangan islam di nusantara adalah masjid agung demak. Wajar jika teman-teman suka tanya mengenai masjid agung demak. Yach mumpung ketemu orang demak langsung.

Saya yakin obrolan-obrolan yang saya alami mengenai demak diatas, tidak saya saja yang mengalami. Hampir seluruh orang demak yang kuliah dan kerja di luar kota mengalami pembicaraan tersebut. Mereka akan membicarakan mengenai asal mereka yaitu "demak", meskipun hanya soal "makanan khas demak itu apa yach.." "Di demak ada kyai yang sakti nggak"

Promosi Murah dan Efektif

Tanpa disadari diskusi dan obrolan ringan di atas bisa menjadi media promosi yang murah dan efektif dalam memasarkan pariwisata demak serta potensi-potensi lainnya yang laik jual. Pemaparan kepada teman mengenai masjid agung demak dengan keunikan dan mitosnya bisa mendorong teman untuk berkunjung ke Masjid agung demak. Mereka pasti penasaran dengan Masjid yang tiang soko gurunya terbuat dari tatal ( bahasa jawa - kumpulan limbah potongan kayu).

Berbicara dengan teman tentang kerang hewan laut yang lezat yang melimbah di desa bungo Kecamatan wedung, atau Pusat kepiting super di Kedung Karang dan Kedung Mutih mungkin akan memperkenalkan pada banyak orang bahwa demak punya Kerang yang banyak, Udang yang bagus, dan kepiting yang super dan murah. Jika yang diajak bicara tidak tertarik dengan bisnis seafood, kemungkinan dia akan menyampaikannya kepada teman-temannya yang berbisnis seafood.

Baru-baru ini seorang temen pesan bibit jambu merah delima yang jadi icon anyar kabupaten demak. Jambu merah delima yang popularitasnya makin menggeser Belimbing Demak, dipesannya karena saya menceritakan tentang keunggulan jambu merah delima, jambu yang mahal, enak, besar, dan mulai banyak dijual di supermarket.

Aktifitas Yang Tidak Mudah.

Kendati mengobrol itu mudah, bahkan jadi kebiasaan sehari-hari. Namun mengobrol tentang demak daerah sendiri tak selamanya mudah. Setidaknya ada beberapa kendala, yaitu:

Tidak Pede. Mental dijajah 350 abad ternyata membuat masyarakat masih minder untuk menceritakan ini lho kota kelahiranku, kondisinya baik, aman, memiliki sejarah yang hebat dalam penyebaran islam di nusantara, dsb. Rasa inferior sudah menghadang terlebih dahulu. Disamping itu, demak yang miskin, kumuh, dan tidak tertata rapi, tak urung membuat siapapun ogah menceritakan kondisi demak, apalagi potensinya.

Tidak Tahu. Jika tidak tahu tentang demak, apa yang mau diobrolin dan disampaikan? Tak jarang ada orang demak yang tak tahu tentang demak, bahkan sejarah singkatnya aja tidak tahu. Arti logonya juga nggak ngerti. Apalagi potensi-potensi demak. Tahukah orang sayung kalo di karanganyar terdapat ratusan hektare tanaman bawang merah? Begitu juga orang karanganyar apakah ditahu kalo di Manggren dan Mijen ada sentra kerajinan eceng gondok. Ketidak tahuan akan demak inilah yang menyebabkan orang demak tidak bisa menceritakan pariwisata dan potensi nya dengan baik.

Diakhir tulisan saya mengajak orang-orang demak, sampaikanlah pada teman-teman anda mengenai demak dengan baik, ceritakan potensi ekonomi dan pariwisatanya, kazanah sosial budaya serta religinya, agar mereka tertarik untuk datang ke demak. Jangan ceritakan tentang mandi di sungai : D. Jika ada orang luar datang ke demak, maka akan ada perputaran uang dan pertumbuhan ekonomi. Pada akhirnya akan mensejahterakan masyarakat demak.

Yuk Promosikan Demak ...

Senin, 15 Juni 2009

Musim Hujan Lewat, Demak Masih Merasakan Banjir

Musim hujan sudah mulai beranjak pergi, namun di sana sini mendung sesekali menurunkan airnya. Nahasnya meski tidak terjadi hujan di demak, demak tetep aja merasakan tradisi-nya yaitu banjir. Adalah desa ploso yang kerap jadi langganan, ketiban musibah yang tidak dapat dibendung ini.

Berikut ini adalah liputan banjir di ploso yang saya ambil dari liputan 6. Saya berharap video yang saya muat dalam blog ini menjadi perhatian khusus oleh pemkab demak, supaya masalah banjir di demak ini tidak jadi berkepanjangan. Diharapkan ada solusi komprehensif dan permanen dalam mengatasi tradisi banjir.


Sumber: http://video.liputan6.com

Sabtu, 13 Juni 2009

Demak Dalam Koin Emas

Masjid Agung Demak yang menjadi kebanggan masyarakat Demak menjadi salah satu corak koin emas dinar. Keindahan arsitektur masjid khas jawa ini menghiasi koin emas yang bernilai2 Dinar (8.5 gr, 22 karat, diameter 26 mm). Pemilihan Masjid agung demak menjadi corak koin berharga ini di dasarkan ataskenyataan sejarah bahwa Islam pertama kali masuk di Pulau Jawa melalui Kesultanan Demak.

Kesultanan Demak sendiri didirikan oleh seorang pangeran, Raden Patah, yang kelak menjadi Sultan I Demak, yang memimpin rakyatnya (1475-1518 M), dengan syariat Islam sebagai hukumnya. Nama asli Raden Patah adalah Jin Bun, putra Kung-ta-bu-mi (alias Bhre Kertabhumi) raja Majapahit dari selir Cina. Kronik Cina ini memberitakan tahun kelahiran Jin Bun adalah 1455. Mungkin Raden Patah lahir saat Bhre Kertabhumi belum menjadi raja (memerintah tahun 1474-1478).
Selama memimpin kesultanan Demak Raden Patah didampingi oleh para syekh dan aulia, khususnya Sunan Kalijaga. Masjid Agung Demak dibangun oleh para wali ini, yang dikenal sebagai Wali Songo, di zaman Raden Patah. Sebagai Sultan Demak I Raden Patah bergelar Senapati Jimbun Ningrat Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama, selain bergelar Sultan Syah Alam Akbar.
Pemakaian Masjid Agung Demak sebagai corak Dinar Nusantara diharapkan akan memperkuat dorongan batin masyarakat Indonesia untuk terbukanya kembali bermuamalat secara syar'i. Sebagaimana makna dari nama (Raden) Patah sendiri, sebagai pendiri Masjid Agung Demak, berasal dari kata al-Fatah, yang artinya "Sang Pembuka", karena ia memang pembuka kerajaan Islam pertama di pulau Jawa
Koin emas dinar yang diterbitkan oleh WIN (Wakala Indonesia Nusantara) ini menjadi harapan baru untuk mengatasi permasalahan ekonomi yang didasari paham kapitalisme.

referensi : http://wakalanusantara.com

Rabu, 10 Juni 2009

Memotret Demak dari Sungai

DEMAK berada di tengah-tengah jalur Pantura. Ini jalur besar yang menghubungkan kota-kota di sepanjang Pantura. Jalur utama Jakarta-Surabaya pun welewati jurusan ini (Semarang-Demak-Jepara-Kudus-Pati-Rembang). Oleh karena itu aktivitas sehari-hari masyarakat Demak dapat diteropong ketika orang-orang melintas.

Salah satu yang sering menjadi perhatian sekilas bagi orang-orang luar kota yang sedang melewati kabupaten Demak adalah sungai. Ya, sungai adalah latar strategis untuk memotret kebudayaan masyarakat Demak.

Dari sungai, orang-orang melihat sebagian warga Demak tengah mandi. “Kesegaran” khas inilah yang di-”tawar”-kan pada para pengendara atau pelintas ketika melewati kawasan Sayung dari arah Semarang. Atau dari arah Demak menuju Jepara atau Kudus. Atau ketika melintasi jurusan Demak-Purwodadi.

Di sungai-sungai yang sejajar dengan jalan raya itulah mudah dijumpai perempuan mandi sekadar berpinjung jarik dan yang lelaki telanjang dada.
Ini lebih mengarah pada etika dan estetika kebudayaan sebagai kota yang menjadi jantung perlintasan di daerah-daerah Pantura.

Kota Demak memiliki “Sungai Mekong” terpanjang di dunia. Sungai Mekong adalah kiasan bagi sungai yang dipergunakan untuk aktivitas MCK (mandi, cuci dan kakus).

Banyak orang bertanya-tanya mengapa (sebagian) warga Demak betah mandi atau mencuci di sungai, sementara airnya kotor. Lihat saja air sungai Tuntang dan Sungai Buyaran yang berada di sisi jalan Semarang-Demak itu berwarna hijau. Sungai itu tampak tidak berarus. Mirip seperti genangan air belaka. Fakta itu tak beda dengan sungai di sepanjang jalan Demak menuju Kudus atau Jepara yang juga kotor.

Adapun yang masih terbilang jernih adalah Sungai Jajar: sungai yang menghubungkan Demak dengan Purwodadi. Sungai ini terletak sebaris dengan jalan Demak-Purwodadi. Sungai Jajar terhubung sampai daerah-daerah Kecamatan Bonang dan bermuara di laut Jawa.

Aktivitas MCK yang dilakukan warga di sungai merupakan pemandangan yang sedikit mengganggu bagi pelintas jalan.

Seperti dimafhumi masyarakat umum yang telah melampaui masa post-tradisional, bahkan bisa dikatakan modern, mandi di tempat terbuka adalah tidak mengindahkan etika. Ini berkaitan dengan wacana tubuh yang secara pribadi harus di-”tutupi” dari ruang sosial demi suatu tujuan etis maupun estetis.
Kesuburan
Sungai adalah sebuah keyakinan kuno tentang kesuburan. Secara mitologis, sungai merupakan sebuah siklus kelahiran dan proses regenerasi. Dahulu kala, leluhur Jawa menjadikan sungai sebagai tempat menyucikan diri yang merupakan lambang dari upaya manusia menghalau kekuatan jahat yang mengancam (Robby Hidajat dalam Jurnal Kebudayaan Jawa, 2006).

Mitos macam ini dikuatkan dengan fakta bahwa seorang susuhunan lahir di tanah Demak dengan jalan menyucikan diri di tepi sungai. Sunan Kalijaga (salah satu dari Walisongo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa) kemudian mengantarkan Demak mendapat sebutan Kota Wali sampai kini. Secara geografis, sungai adalah kekayaan alam yang sangat berharga bagi manusia. Sungai adalah representasi kesuburan suatu daerah.

Demak mempunyai sejarah penting dalam perekonomian di tanah Jawa, yakni ketika Kerajaan Demak masih berdiri kokoh pada kurun abad XVI.

Sebagai Kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak pernah menjadi daerah maju ketika perekonomiannya ditopang oleh perairan seperti sungai untuk pertanian. Bahkan sungai menjadi jalur transportasi kapal-kapal menghubungkan titik-titik perniagaan dengan bandar laut yang menjadi pusat arus barang niaga di pantai utara Laut Jawa.

Aktivitas MCK secara langsung mengotori sungai. Ini disebabkan oleh zat-zat kandungan sabun mandi atau sabun cuci yang kemudian larut dalam air sungai. Sementara, sungai yang kotor merepresentasikan area slum atau daerah kumuh.

Beda dari zaman purba, orang-orang mandi belum menggunakan sabun sehingga tidak mengakibatkan air sungai terkena polusi.
Mengingat sungai-sungai besar di Demak masih menjadi saluran irigasi vital bagi pertanian, maka pengotoran sungai amat merugikan.

Orang-orang tidak sadar dan tidak berpikir jauh tentang persoalan ini, padahal lambat laun dapat mengurangi produktivitas pertanian karena kualitas air yang berangsur-angsur makin memburuk.

Oleh karena itu, aktivitas MCK yang memanfaatkan sungai perlu dicarikan alternatif lain dengan tidak memutus hubungan masyarakat dengan sungai itu sendiri. Hal ini demi menghapus stigma buruk agar olok-olok “Sungai Mekong Terpanjang” tidak menjadi kutukan berkepanjangan bagi generasi berikutnya.

Alangkah lebih baik jika pengguna sungai membuat tempat-tempat mandi di rumah masing-masing. Sementara airnya tetap diambil dari sungai dengan bantuan mesin pompa air. Pola seperti ini tidak akan mengotori air sungai maupun mengganggu pemandangan mata.
Citra Kota Wali
Jargon Demak Beramal (bersih, elok, rapi, anggun, maju, aman, serta lestari) selaiknya ditunjukkan dengan tata kehidupan yang selaras antara etika dan estetika. Salah satunya dengan mendayagunakan sungai sebagaimana mestinya.

Perlu kesadaran kolektif warga sekitar sungai yang berada di tengah-tengah ruang publik untuk menjadikan sungai bersih dan nyaman dipandang mata.

Apalagi Demak masyhur sebagai kota yang tingkat religiusitas masyarakatnya cukup tinggi. Ini tak lepas dari sejarah Demak sebagai pusat persebaran Islam di Jawa (simbolnya adalah kerajaan Demak dan Walisongo).

Citra yang demikian seharusnya mendorong untuk bersikap hidup bersih dan tertata sebagai perwujudan cermin hidup yang agamis. Bahwa, al-nadhafatu min al-iman, ’’kebersihan bagian dari iman’’.

Semua titik-titik produktif yang menopang kemajuan Demak itu akan semakin mempunyai daya tarik jika didukung dengan kota yang bersih, tertata, dan bere(ste)tika. (80)

----------------------------------%%%^%^%^$#*^ ------------------------------

— Penulis Musyafak, Pemimpin Redaksi Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat Semarang

Artikel ini saya ambil dari suara merdeka pada kolom wacana lokal edisi cetak.
http://www.suaramerdeka.com

Selasa, 09 Juni 2009

Wajah Baru Website Pemkab Demak

Setelah semalam saya dapati keanehan di website pemkab demak, ternyata dugaan saya kalo website resmi pemkab Demak akan dirombak adalah benar. ini adalah screen shot website pemkab demak yang saya ambil pada jam tanggal 9 juni 2009 07.00.


Saya cukup senang dengan perubahan yang dilakukan tim IT kabupaten demak. Meskipun masih ada ketidakpuasan dalam hati. ketidak puasan tersebut adalah. Perombakan yang dilakukan terkesan kurang serius, hal ini tercermin dengan design dan konten yang seadanya. Pemilihan design dengan template yang di bawah standar dan gratisan agaknya "nggak banget" untuk sebuah situs sekelas pemerintahan. Dengan template gratisan ini, sangat mudah masyarakat umum untuk menjiplaknya. Tampilan design website pemkab demak yang saya perlihatkan diatas dapat anda dapatkan dengan mudah dan gratis di sini.

Di samping itu banyak halaman yang masih "undercontruction". Hal ini tidak jauh dengan website pendahulunya yang broken link, atau linknya hanya mengarah ke "#". Apakah halaman-halaman under contruction tersebut akan segera diperbaiki? mengingat website lama yang jarang diupdate dan broken link yang dibiarkan bertahun-tahun, rasanya sulit berharap akan ada perubahan berarti. Harapan saya perubahan tersebut benar2 akan dilakukan.

Akhir tulisan singkat ini, semoga ini hanya ujicoba saja, dan akan disusul dengan website kabupaten demak yang bener-bener powerful, baik dari sisi design, navigasi, terutama lagi informasi dan aplikasi yang ditawarkan. maju terus IT demak...

Senin, 08 Juni 2009

Website Pemkab Demak Akan Dirombak?

Malam ini saya buka blog demak-ku ini, sepertinya ada yang nggak beres inih. yups.. setelah saya perhatikan, ketidak beresannya itu favicon yang selalu menghiasi blog saya ini. favicon yang telah aku customisasi ternyata menjadi favicon standar blogger. padahal sudah saya setting dengan favicon logo demak yang saya ambil dari website demak (boleh dikata mencuri gitu deh) alamatnya ini : http://demakkab.go.id/images/favicon.ico. eh ternyata "The requested URL /images/favicon.ico was not found on this server"

Ada apa dengan website kabupaten demak?

Setelah saya cek, server aktif kok. hanya saja beberapa file pada hilang hanya ada satu file dan dua folder. apakah ini artinya file-file scriptnya sudah dihapus dan akan di ganti lagi dengan yang baru? yang minimal pakai cms yang banyak beredar, wordpress kek, joomla, atau drupal. banyak kok situs-situs pemerintah pakai ketiga cms ini. bahkan Situs Resmi Repubik Indonesia aja pede ajah tuh pakai opensource cms joomla.

lalu dengan menghilangnya file2 situs kabupaten demak, akankah ada wajah baru situs resmi kabupaten demak? yach itu yang saya harapkan. Situs yang saat ini sudah dipublish menurutku sangat jelek. informasi nya tidak lengkap, designnya statis kayak website zaman sembilan puluhan, dan jarang update lagi, tentu saja untuk update susahnya bukan maen, orang websitenya statis gitu kok.

Kunantikan wajah baru situs resmi kabupaten demak.

Minggu, 07 Juni 2009

Demak di Era Hedonisme

Demak dulu adalah sebuah kerajaan Islam pertama. Pada mulanya agama Islam sulit masuk dalam lingkungan masyarakat Jawa. Setidaknya dua kelompok menjadi tantangan Islam; lingkungan budaya Kejawen dan lingkungan budaya Istana Majapahit. Dengan keadaan yang demikian para penyebar agama Islam menekankan penyebaran dalam lingkungan masyarakat pedesaan, terutama di daerah-daerah pesisiran. (Simuh, 2005).

Dengan menggunakan pendekatan budaya masyarakat pedesaan dan pesirir menerima Islam dengan mudah. Perkembangan selanjutnya adalah munculnya kebudayaan intelektual pesantren yang menjadi saingan kebudayaan intelektual di lingkungan istana Majapahit.

Tradisi pesantren berkembang menjelma menjadi pemerintahan kecil dalam wilayah-wilayah tertentu. Bahkan di antaranya menjelma menjadi kesultanan, yakni kasultanan Demak. Puncaknya adalah kasultanan Demak tumbuh dan menumbangkan kekuasaan Majapahit.

Sampai hari ini masih kita tememukan jejak-jejak kerajaan Demak. Wujud kebudayaan fisik yang masih dapat kita saksikan hingga hari ini adalah Masjid Agung Demak dan makam Kanjeng Sunan Kalijaga di Kadilangu. Demak sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam masih tampak dengan keberadaan pesantren yang tersebar di seluruh penjuru wilayah kabupaten Demak.

Jama’ah-jama’ah pengajian juga hampir ada di setiap kampung. Kesenian bernuansa Islam masih sangat kental di wilayah kabupaten Demak, seperti rebana, kentrung, zipin, kaligrafi, seni baca Al-Qur’an dan lain-lain.

Tapi Demak sekarang adalah Demak yang bingung memilih kebudayaannya. Antara budaya pesantren dengan budaya hedonis yang sedang mengejala. Generasinya adalah generasi yang resah antara kukuh dengan peninggalan masa lalu, berdiam diri bersedeku dalam pondok, atau ikut berjirak bersama alunan musik rock di lapangan Tembiring.

Peci-peci itu telah dilepas, digantikan potongan rambut punk, baju koko dan sarung dilepas digantikan celana dan baju junkis. Jilbab pada kaum perempuannya juga mengalami nasib yang tak jauh berbeda.

Generasi Demak saat ini adalah generasi yang resah dan gamang. Dulu, tempat ini menjadi salah satu pusat intelektualitas pesantren yang mengancam intelektualitas kejawen dan priyayi Majapahit. Sekarang Intelektualitas pesantren mendapat ancaman.

Hedonisme, dan gaya hidup ‘gaul’ merebut sedikit demi sedikit namun pasti perhatian sebagian warga Demak. Pemindahan panitia penyelengara grebeg besar terakhir ini dari Pemkab menjadi swasta dengan tujuan pemenuhan target pendapatan agar lebih tingg membuktikan hal itui. Bintang tamu yang dihadirkan seperti dangdutan, Dara AFI, Didi Kempot tampak jelas bahwa unsur hiburan dan untung belaka yang ingin dicapai.

Mengapa kesenian Demak asli, seperti kentrung, rebana, zipin, seni baca Al Qur’an, dan lomba kaligrafi tidak di munculkan?

Masalah kebudayaan adalah masalah pandangan inferior dan pandangan superior terhadap jenis kebudayaan oleh masyarakatnya. Jika masyarakat Demak sudah menganggap kebudayaan asli lebih rendah nilainya di banding budaya baru maka ini adalah awal hancurnya kebudayaan lama. Kalau masyarakat Demak menganggap rebana lebih rendah mutunya dibanding group band, maka tidak lama lagi rebana akan hilang. Jika orang Demak menganggap tari zipin lebih rendah dari tari-tari modern, maka tidak lama lagi zipin juga akan punah. Jadi solusi yang harus ditempuh untuk menaggulangi kepunahan zipin, rebana, koko, peci dan yang lainnya adalah memperbaiki anggapan masyarakatnya.

Disclaimer: postingan ini saya ambil dari tulisan kolom "suara pembaca" koran Suara Merdeka, ditulis oleh Muhajir Arrosyid sebagai uji coba blog ini.
Link tulisan asli: Koran Suara Merdeka

Sabtu, 06 Juni 2009

Tentang Demak - ku


Lahir di daerah yang mewarisi tradisi kerajaan islam pertama di tanah jawa merupakan kebanggan bagiku, Lenyapnya kerajaan ini bersama dengan kerajaan-kerajaan lainya di nusantara tidak membuat kebanggaan ini ikut runtuh bersama puing-puing istana yang lapuk, karena kejayaan yang pernah diraih kerajaan ini akan mampu diwujudkan kembali oleh pewaris semangat Sultan Syah Alam Akbar, Senapati Jimbun Ningrat Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama, Raden Fatah.

Adalah sebuah kebahagian bisa memotret dan merekam proses menuju kejayaan itu dalam untaian kata-kata yang aku beri nama demak-ku. Pernak pernik dan ragam kehidupan masyarakat demak yang begitu banyaknya tak kan habis untuk dikisahkan. Apalagi kalo hanya dalam wadah blog demak - ku. blog demak - ku tak ubahnya gayung kecil yang hanya mampu mengambil sedikit air dari lautan kisah kehidupan masyarakat demak. dan itupun hanya sebatas opini dan pandangan seorang biasa.

Blog demak-ku ini hanyalah salah satu upaya kecil untuk menghadirkan informasi berharga khusus dari, oleh, dan untuk masyarakat demak. semoga kehadiran blog ini memberi manfaat bagi saya dan masyarakat demak pada umumnya.

Jumat, 05 Juni 2009

Peta Kabupaten Demak

Berikut ini adalah peta wilayah kabupaten demak yang diambil dari google map. Peta demak ini berisi nama-nama jalan, desa dan beberapa lokasi penting di demak. Kelebihan peta ini adalah tampilan permukaan kabupaten demak dilihat dari satelit, sehingga peta wilayah demak ini tampak seperti nyata.