Sabtu, 15 Agustus 2009

Minimarket Vs Toko Kelontong

Meskipun gaungnya telah redup oleh isu isu besar semacam terorisme dan sengketa pilpres, namun anda tentu masih ingat wacana "Faham ekonomi Neolib dan Ekonomi Kerakyatan" yang sempat menyeruak ke permukaan yang ikut memanaskan suhu politik saat itu. Dimana faham ekonomi neoliberal yang disematkan pada salah satu pasangan Capres dan Cawapres dikhawatirkan akan memberi dampak buruk pada perekonomian indonesia. Disebutkan bahwa faham ekonomi neoliberal menghendaki kebijakan pemerintah lebih berpihak pada para pemegang modal.Ekonomi diatur oleh tangan tak terlihat mekanisme pasar yang tak lain dan tak bukan adalah kapital.

Sebagai tandingannya, isu yang diusung adalah Faham ekonomi kerakyatan, dimana kebijakan pemerintah akan lebih berpihak pada rakyat kecil, usaha kecil dan menengah, serta roda-roda yang menggerakkan ekonomi rakyat kecil.

Di sini saya tidak akan membahas lebih lanjut apa itu ekonomi neoliberal dan apa ekonomi kerakyatan. Pada kesempatan ini saya ingin meng-opinikan salah satu roda ekonomi yang paling dekat dengan kita yang insya allah berhubungan dengan wacana ekonomi neolib vs ekonomi kerakyatan, yaitu minimarket dan toko kelontong dekat rumah kita.

Keberadaan minimarket biasanya dimiliki pemegang modal besar, yang dengan modalnya itu mereka dengan mudah mengembangkan sayap usahanya. Bahkan dengan modal besarnya itu mereka melakukan penetrasi pasar hingga ke cerug yang paling kecil sekalipun seperti desa dan pemukiman. Untuk menambah lebih besar skala bisnisnya, minimarket-minimarket saat ini berlomba menawarkan sistem waralaba yang memungkinkan para "pemilik modal besar" lainnya ikut melebarkan sayap minimarket tersebut. Sehingga para pemilik modal besarlah yang mampu menikmati lezatnya bisnis retail.

Coba simak video salah satu profil minimarket berikut:

Get Flash to see this player.

Wow, menarik bukan? seorang yang sudah mapan dengan bisnisnya, hanya dengan merogoh koceknya yang tebal, dia bisa menciptakan pundi-pundi uang yang baru tanpa harus susah payah meninggalkan bisnis utamanya. Tak tanggung tanggung, waralaba yang bisa dibeli, delapan gerai.

Usaha pengelola minimarket memperlebar jangkauan bisnisnya hingga ke pelosok desa dan pemukiman-pemukiman, menjadi angin segar bagi konsumen dimana konsumen akan memiliki banyak alternatif dalam berbelanja. Akan tetapi di saat yang sama ternyata di sana ada karang yang rapuh yang akan terhempas dan hancur diterjang gelombang ekspansi waralaba minimarket, karang itu adalah "toko kelontong" tetangga kita. Toko yang selama ini menyediakan barang-barang kebutuhan kita dari peralatan kebersihan hingga keperluan konsumsi keluarga, akan tergusur oleh mini market.

Target Pasar Minimarket

Kenapa saya menghawatirkan toko kelontong, bukan pasar tradisional? Karena target pasar minimarket adalah end-user/konsumen di pemukiman di mana mereka ini adalah pelanggan setia toko kelontong. Dalam salah satu artikel yang diterbitkan oleh Republika (12/1/2008) dan diposting ulang oleh salah satu pengelola minimarket besar dengan judul "Pilihan Belanja Mudah di Kawasan Pemukiman", mengindikasikan bahwa target market mereka adalah konsumen keluarga di pemukiman-pemukiman. "Karena minimarket juga tersebar hingga ke pelosok dan bahkan biasanya berada lingkungan tempat tinggal", disebutkan dalam artikel tersebut.

Bahkan dalam salah satu profil minimarket terkemuka, disebutkan dengan eksplisit bahwa salah satu target geografis pasarnya adalah "Area Perumahan"

Toko Kelontong Bagaimana Nasibmu?

Keberadaan Toko kelontong ditengah hempasan gelombang ekspansi pemodal besar agaknya menghawatirkan. Tidak perlu ditanyakan bagaimana kondisi persaingan diantara mereka, karena kita tahu seberapa besar nyali toko kelontong dibandingkan dengan kekuatan minimarket. Toko kelontong tentu takkan bisa menyediakan kenyamanan sebagaimana minimarket, kelengkapan barang toko kelontong tak selengkap minimarket, harga yang ditawarkan toko kelontong juga tidak mampu bersaing dengan minimarket, karena mini market besar biasanya sudah meliki jaringan distribusi yang efisien (kalo tidak mau dikatakan langsung mengambil dari produsen).

Peraturan Presiden Nomor 112 tahun 2007 tentang penataan dan pembinaan pasar tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern yang menjadi harapan campur tangan pemerintah dalam mengatur persaingan yang adil tak bisa diandalkan sepenuhnya, karena kita tahu tak sedikit penghianatan pemerintah terhadap peraturan yang dia tetapkan sendiri. Apalagi adanya oknum pemerintah yang korup yang mudah disuap untuk meloloskan izin usaha dimana sebenarnya surat tersebut tak layak terbit.

Bila kita membaca wacana faham ekonomi neoliberal Vs ekonomi kerakyatan, ekspansi ke pemukiman-pemukinan yang dilakukan minimarket adalah wujud implementasi ekonomi neolib. Bagaimana menurut anda? lalu bagaimana agar terjadi persaingan yang adil?

Diakhir tulisan ini, saya ingin membagi pengalaman saya dalam berbelanja. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya seperti deterjen, sabun mandi, gula, kopi, mie instan, kosmetik, serta cemilan, saya biasanya membelinya di toko dekat rumah. Alasan saya sederhana: karena dengan membeli di toko kelontong milik tetangga, saya telah membantu menggerakkan roda dagang mereka yang modalnya kecil. Karena kalo bukan saya dan warga sekitar siapa lagi yang bisa menggerakkan perputaran modal mereka. Dan bila saya dan warga lain beralih berbelanja ke Minimarket, bagaimana nasib mereka pemilik toko kelontong? Bukankah para pemodal besar dan pemilik minimarket telah memiliki bisnis dan usaha yang telah mapan lainnya (simak lagi video di atas).


Refensi :
Isi Toko Modern Segera Dibatasi Dengan Perda
Pilihan Belanja Mudah di Kawasan Pemukiman
Revitalisasi Pasar Tradisional, Toko Modern Diminta Menjauh
Target Pasar Alfamart
video courtesy of Indomaret

16 Komentar

memang, kesenjangan terjadi dimana-mana.

Saya jadi prihatin

iya juga ya

minimarket malah mengalahkan toko2 kecil dirumah... toko kakak saya juga ngga rame2 banget kalah saingan ma minimarket T_T

salammmm.... makasih sudah mampir ya hehee

susah nasib rakyat kecil di negara ini.. cape dech

@ocim netral apa serius...? :D

@andri moga dapet jalan rezeki yang lebih baik.

@slamdunk silaturrohim bisa datengkan rizki..

@jaloe meskipun capek, tetep aja adalah kewajiban sesama manusia untuk membantu..

semua ini adalah karena pemerintah tidak memiliki antisipasi dalam menghadapi tantangan zaman. kapitalisme semakin cerdas dalam menghisap keuntungan tanpa peduli siapa yang dirugikan. sedangkan pemerintah semakin dungu dalam melindungi rakyatnta. bangga menjadi neo liberal padahal rakyat terlantar.

benar sekali, minimarket biasanya lebih lengkap dari toko kelontong. apalagi jika minimarket tersebut baru berdiri, harga lebih murah (untuk mencari pelanggan lebih dulu, walaupun nanti lama-lama juga mahal), ditambah dengan undian berhadiah (untuk menjaring komsumen lagi), pasti akan tambah banyak yg datang ke minimarket.
semakin terhimpit saja toko kelontong yg di tetangga kita.

makasih sharingnya, dari keadaan di sekeliling kita bisa jadi artikel yg menarik.
salam.

@kharis ya.. harus adil maksudnya kan?

@arifin moga aja pemerintah lebih bijaksana.

@narti mari kita saling share hal2 yang bermanfaat bagi kita semua.

Kekuatan toko kelontong yang tidak dimiliki oleh Minimarket adalah disitu kita bisa ngutang! Warung2 kecil bisa hidup karena melayani rakyat kecil yang dapat income kecil dlm waktu tertentu. Beresiko tetapi dibalik resiko itu...ada harapan.

@andi bener juga tuh. soalnya tak jarang pas lagi bokek atau uang kurang, biasanya saya bilang "bu kurangannya besok ya.. "

tapi jangan kebanyakan utang, kasihan modalnya yang harusnya diputer jadi mandek gara2 diutang.

di satu sisi ini adalah hasil olah kreatifitas. Yang kreatiflah pemenangnya. Pemasaran mereka telah menarik dan mengubah cara pandang belanja masyarakat. Sementara Toko Kelontong masih tetap konservatif sehingga kalah bersaing. Di sisi lain pemerintah kita dengan adanya Program Pemberdayaan Usaha Kecil tidak menyentuh pembinaan di sektor ritel.
Mungkin itu sedikit catatatn saya. Trim Mas, salam kenal.

Salam persahabatan dari Blogger Borneo. Hanya sekedar menambahkan pada saat sekaran ini ada satu lagi jenis toko yang bisa dikembangkan yaitu Toko Online. Lebih efisien dan hemat biaya banget...

begitulah bisnis sekarang sobb,,, apapun pilihannya pastikan itu yang terbaik..
salam hangat blogger semarang

wah bener nich...... PR kecil tapi pengunjung berjibun....


EmoticonEmoticon