Minimarket Vs Toko Kelontong

Meskipun gaungnya telah redup oleh isu isu besar semacam terorisme dan sengketa pilpres, namun anda tentu masih ingat wacana "Faham ekonomi Neolib dan Ekonomi Kerakyatan" yang sempat menyeruak ke permukaan yang ikut memanaskan suhu politik saat itu. Dimana faham ekonomi neoliberal yang disematkan pada salah satu pasangan Capres dan Cawapres dikhawatirkan akan memberi dampak buruk pada perekonomian indonesia. Disebutkan bahwa faham ekonomi neoliberal menghendaki kebijakan pemerintah lebih berpihak pada para pemegang modal.Ekonomi diatur oleh tangan tak terlihat mekanisme pasar yang tak lain dan tak bukan adalah kapital.

Sebagai tandingannya, isu yang diusung adalah Faham ekonomi kerakyatan, dimana kebijakan pemerintah akan lebih berpihak pada rakyat kecil, usaha kecil dan menengah, serta roda-roda yang menggerakkan ekonomi rakyat kecil.

Di sini saya tidak akan membahas lebih lanjut apa itu ekonomi neoliberal dan apa ekonomi kerakyatan. Pada kesempatan ini saya ingin meng-opinikan salah satu roda ekonomi yang paling dekat dengan kita yang insya allah berhubungan dengan wacana ekonomi neolib vs ekonomi kerakyatan, yaitu minimarket dan toko kelontong dekat rumah kita.

Keberadaan minimarket biasanya dimiliki pemegang modal besar, yang dengan modalnya itu mereka dengan mudah mengembangkan sayap usahanya. Bahkan dengan modal besarnya itu mereka melakukan penetrasi pasar hingga ke cerug yang paling kecil sekalipun seperti desa dan pemukiman. Untuk menambah lebih besar skala bisnisnya, minimarket-minimarket saat ini berlomba menawarkan sistem waralaba yang memungkinkan para "pemilik modal besar" lainnya ikut melebarkan sayap minimarket tersebut. Sehingga para pemilik modal besarlah yang mampu menikmati lezatnya bisnis retail.

Coba simak video salah satu profil minimarket berikut:

Get Flash to see this player.

Wow, menarik bukan? seorang yang sudah mapan dengan bisnisnya, hanya dengan merogoh koceknya yang tebal, dia bisa menciptakan pundi-pundi uang yang baru tanpa harus susah payah meninggalkan bisnis utamanya. Tak tanggung tanggung, waralaba yang bisa dibeli, delapan gerai.

Usaha pengelola minimarket memperlebar jangkauan bisnisnya hingga ke pelosok desa dan pemukiman-pemukiman, menjadi angin segar bagi konsumen dimana konsumen akan memiliki banyak alternatif dalam berbelanja. Akan tetapi di saat yang sama ternyata di sana ada karang yang rapuh yang akan terhempas dan hancur diterjang gelombang ekspansi waralaba minimarket, karang itu adalah "toko kelontong" tetangga kita. Toko yang selama ini menyediakan barang-barang kebutuhan kita dari peralatan kebersihan hingga keperluan konsumsi keluarga, akan tergusur oleh mini market.

Target Pasar Minimarket

Kenapa saya menghawatirkan toko kelontong, bukan pasar tradisional? Karena target pasar minimarket adalah end-user/konsumen di pemukiman di mana mereka ini adalah pelanggan setia toko kelontong. Dalam salah satu artikel yang diterbitkan oleh Republika (12/1/2008) dan diposting ulang oleh salah satu pengelola minimarket besar dengan judul "Pilihan Belanja Mudah di Kawasan Pemukiman", mengindikasikan bahwa target market mereka adalah konsumen keluarga di pemukiman-pemukiman. "Karena minimarket juga tersebar hingga ke pelosok dan bahkan biasanya berada lingkungan tempat tinggal", disebutkan dalam artikel tersebut.

Bahkan dalam salah satu profil minimarket terkemuka, disebutkan dengan eksplisit bahwa salah satu target geografis pasarnya adalah "Area Perumahan"

Toko Kelontong Bagaimana Nasibmu?

Keberadaan Toko kelontong ditengah hempasan gelombang ekspansi pemodal besar agaknya menghawatirkan. Tidak perlu ditanyakan bagaimana kondisi persaingan diantara mereka, karena kita tahu seberapa besar nyali toko kelontong dibandingkan dengan kekuatan minimarket. Toko kelontong tentu takkan bisa menyediakan kenyamanan sebagaimana minimarket, kelengkapan barang toko kelontong tak selengkap minimarket, harga yang ditawarkan toko kelontong juga tidak mampu bersaing dengan minimarket, karena mini market besar biasanya sudah meliki jaringan distribusi yang efisien (kalo tidak mau dikatakan langsung mengambil dari produsen).

Peraturan Presiden Nomor 112 tahun 2007 tentang penataan dan pembinaan pasar tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern yang menjadi harapan campur tangan pemerintah dalam mengatur persaingan yang adil tak bisa diandalkan sepenuhnya, karena kita tahu tak sedikit penghianatan pemerintah terhadap peraturan yang dia tetapkan sendiri. Apalagi adanya oknum pemerintah yang korup yang mudah disuap untuk meloloskan izin usaha dimana sebenarnya surat tersebut tak layak terbit.

Bila kita membaca wacana faham ekonomi neoliberal Vs ekonomi kerakyatan, ekspansi ke pemukiman-pemukinan yang dilakukan minimarket adalah wujud implementasi ekonomi neolib. Bagaimana menurut anda? lalu bagaimana agar terjadi persaingan yang adil?

Diakhir tulisan ini, saya ingin membagi pengalaman saya dalam berbelanja. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya seperti deterjen, sabun mandi, gula, kopi, mie instan, kosmetik, serta cemilan, saya biasanya membelinya di toko dekat rumah. Alasan saya sederhana: karena dengan membeli di toko kelontong milik tetangga, saya telah membantu menggerakkan roda dagang mereka yang modalnya kecil. Karena kalo bukan saya dan warga sekitar siapa lagi yang bisa menggerakkan perputaran modal mereka. Dan bila saya dan warga lain beralih berbelanja ke Minimarket, bagaimana nasib mereka pemilik toko kelontong? Bukankah para pemodal besar dan pemilik minimarket telah memiliki bisnis dan usaha yang telah mapan lainnya (simak lagi video di atas).


Refensi :
Isi Toko Modern Segera Dibatasi Dengan Perda
Pilihan Belanja Mudah di Kawasan Pemukiman
Revitalisasi Pasar Tradisional, Toko Modern Diminta Menjauh
Target Pasar Alfamart
video courtesy of Indomaret

COMMENTS

BLOGGER: 16
Loading...


Nama

Agenda,4,Agenda Kita,6,Bisnis,9,Celotehan,19,CPNS 2014,2,Demak Dalam Berita,2,Ekonomi,2,Informasi,39,Inspirasi Wong Demak,3,Intermezzo,1,kitab,1,Kreasi,1,Layanan Masyarakat,3,Lingkungan,3,Lowongan Kerja Demak,2,Opini,2,Peluang Bisnis,2,Pengajian Rutin,1,Pertanian,2,Pokemon Go,1,PSD Demak,2,Ragam,16,Sejarah,4,Tutorial,1,
ltr
item
Demak-ku: Minimarket Vs Toko Kelontong
Minimarket Vs Toko Kelontong
http://3.bp.blogspot.com/_R3gfExuJAFc/SoZOV-rrvtI/AAAAAAAAAcA/JHhrrG6ON1w/s200/sumo-kid.jpg
http://3.bp.blogspot.com/_R3gfExuJAFc/SoZOV-rrvtI/AAAAAAAAAcA/JHhrrG6ON1w/s72-c/sumo-kid.jpg
Demak-ku
http://demak-ku.blogspot.com/2009/08/minimarket-vs-toko-kelontong.html
http://demak-ku.blogspot.com/
http://demak-ku.blogspot.com/
http://demak-ku.blogspot.com/2009/08/minimarket-vs-toko-kelontong.html
true
949093178078590154
UTF-8
Semua postingan yang dimuat Tulisan tidak ditemukan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal membalas Hapus Oleh Beranda HALAMAN TULISAN Lihat Semua Disarankan untuk anda LABEL Arsip SEARCH SEMUA TULISAN Tulisan yang anda inginkan tidak ditemukan Kembali ke Beranda Ahad Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ahd Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des Sekarang 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu yang lalu Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Salin semua kode Seleksi semua kode Semua kode telah tersalin Tidak dapat menyalin kode/tulisan silahkan tekan tombol [CTRL]+[C} untuk menyalin