Selasa, 19 Oktober 2010

Melayani Orang Lain, Oh Indahnya

Dalam sebuah perbincangan ringan di sela-sela kerja, seorang teman melontarkan pernyataan "sak ini kabeh wong golek jabatan mung kanggo golek duit numpuk bondo gak ono sing niyate kanggo nglayani masyarakat" (sekarang semua orang mencari jabatan hanya untuk mencari uang menumpuk kekayaan, tidak ada yang berniat untuk mengabdikan diri untuk melayani masyarakat/hidup membantu orang lain). Dan diapun memberikan contoh dan fakta-fakta kerakusan para pejabat dalam menumpuk kekayaan. Tak cukup dalam ranah pemerintahan, para pekerja, eksekutif perusahaan, pengusaha,
bahkan abdi masyarakat seperti guru, kyai, dan lainnya setali tiga uang tidak ada bedanya.

Pernyataan itu seolah meniadakan kenyataan bahwa masih ada orang-orang yang memiliki jiwa sosial dan pengabdian dalam menjalankan profesi pekejaannya, serta peduli terhadap orang lain seperti Anda.

Satu hal yang menjadi kesepakan semua orang, bahwa setiap orang hidup di dunia ini adalah mencari kebahagiaan. Mereka ingin hidup bahagia. Akan tetapi setiap orang mempunyai keyakinan dan cara tersendiri dalam memperoleh kebahagiaan.

Salah satu cara yang diyakini bisa mendatangkan kebahagiaan adalah dengan mengumpulkan sebanyak mungkin harta, bahkan dengan cara apapun. Dengan semakin banyaknya kekayaan yang dimiliki orang akan semakin bahagia.

Keyakinan di atas yang bertolak dari faham materialisme ini belakang makin subur dan mengakar kuat di hati masyarakat lantaran gencarnya kapitalis melakukan doktrin kepada masyarakat lewat berbagai media. Lihat saja iklan kartu kredit yang menjajikan kebahagiaan kesenangan dengan cara menikmati belanja di Mall ternama, berlibur di tempat terkenal dengan layanan hotel bintang 5. Iklan kendaraan yang menyuguhkan gengsi mengendarai kendaraan terkini, Hunian mewah dengan berbagai macam fasilitas yang lux.Bahkan film dan sinetron yang tampil di jam-jam utama tak kalah menyajikan gaya hidup materialis. Tak ayal apa yang dikonsumsi otak masyarakat sekarang menjadi patokan gaya hidup mereka.

Mungkin karena keyakinan inilah, apa yang dikatakann temen saya di atas itu benar. Orang bekerja hanya menumpuk kekayaan ansih. Apa yang dianggapnya bisa menjadi uang, mereka akan meng-uang-kannya. Mulai dari pungli berdalih uang administrasi, uang terima kasih, hingga dilegalkan melalui Surat Keputusan. Pekerjaan yang tadinya hanya satu jam selesai, karena tidak ada uang "terima kasih"nya menjadi molor hingga satu minggu.

Karena ingin menumpuk uang, seorang karyawan untuk naik jabatan dan dipromosikan ia tega menyikut rekan kerja, menginjak-injak bawahannya dan tak punya malu menjilat atasannya. Sehingga suasana kerja yang nyaman tidak bisa didapati.

Apakah ketika bekerja dengan tujuan dan cara seperti diatas akan mendatangkan kebahagiaan?

Disini saya tak hendak menggurui para pembaca atau siapapun, karena anda pasti punya konsep tersendiri tentang bagaimana mencapai kebahagiaan. Tapi izinkan saya untuk mengingatkan anda tentang sesuatu yang mungkin anda pernah mendengarnya.

Semangat Berbagi dan Melayani Orang Lain.

Di zaman dengan faham materialisme dewasa ini, spirit untuk berbagi dan melayani orang lain seperti oase di tengah padang pasir yang gersang dan panas. spirit berbagi dan melayani inilah oleh para motivator, penceramah, penasehat spiritual dirumuskan menjadi salah satu cara untuk meraih kebahagiaan. Mungkin anda pernah mendengarnya dari Mario Teguh dalam Golden Ways-nya, atau anda dapati dari Ustadz Yusuf Mansur dengan indahnya bersedekah dan buku-buku beliau, atau guru-guru yang anda kagumi menasehati untuk anda.

Secara individu maupun institusi spirit berbagi dan melayani orang lain telah banyak dipraktekkan. Sebut saja Irwan Hidayat pemilik sido muncul, dia baik secara individu maupun melalui perusahaan melakukan program Corporate Social Responsibility (CSR). Individu-individu dan institusi-institusi lain juga melakukan hal yang sama. Apa hasilnya? terlepas dari motif apapun, dari berbagai penelitian perusahaan yang melakukan program CSR terbukti kesehatan perusahaanya berbanding lurus dengan program CSRnya.

Lalu bagaimana dengan kita yang tidak sekaya Irwan Hidayat dan tidak memiliki perusahaan? apakah menunggu hingga jadi milyader dulu? Tentu anda tahu jawabannya.

Pernahkah anda ditanya oleh seseorang tentang alamat suatu tempat? Ketika anda memberi jawaban dengan jelas dan ramah. kemudian si penanya merasa terbantu dengan jawaban anda dan dengan senyum penuh rasa terima kasih mengatakan "Terima kasih pak, anda sangat membantu sekali". Apa yang anda rasakan ketika mendengar ucapan itu? Kita akan merasakan senang dan bahagia manakala orang lain bisa merasakan senang berkat bantuan kita. Sekecil apapun yang bisa kita berikan saya yakin itu tidak kalah dengan apa yang para milyader berikan pada masyarakat. Karena nilainya bukan besarnya bantuan itu, tapi besarnya niat dan usaha yang kita berikan.

Dalam dunia kerja spirit berbagi dan melayani orang lain ini bisa kita aplikasikan, seperti melayani customer dengan sepenuh hati, memberi layanan dengan prima kepada masyarakat apabila kita kerja di institusi layanan publik. menyelesaikan tanggung jawab kita sehingga tidak membebani teman kerja sekaligus membantu meringankan pekerjaan teman, tidak mempersulit proses dan prosedur layanan dengan memungut uang yang tidak sah, dan lainnya.

Dan apa yang kita praktekan di dunia kerja seperti diatas akan membuat kita puas dan bahagia. kenapa saya bisa mengatakan seperti itu? karena saya telah membuktikannya, dan telah banyak orang yang membuktikannya. Lalu bagaimana dengan Anda??

Semangat melayani orang lain ini akan lebih terasa dampaknya membuat seseorang merasa puas dan bahagia manakala diterapkan oleh orang yang bekerja di layanan publik seperti Rumah sakit, Birokrasi pemerintah, Layanan Telekomunikasi dsb. Sebab karyawan atau pegawai di institusi layanan publik akan membantu banyak orang.

image coutesy: http://warintek.slemankab.go.id

15 Komentar

bila semangat melayani dengan baik dan tulus ini dijalankan oleh siapapun dan dimanapun, maka negara kita akan cepat maju sejahtera..
SALAM dari Kendari...

pemimpin pintar banyak, tapi yang punya jiwa melayani rakyatnya,, segelintir dan dibiarkan ga bersuara :(

Semangat melayani dibutuhkan sikap yang profesional dan perlu pintar akting, segundah apapun kondisi kita, harus tetap tersenyum indah

To ysalma: kalo cuma dikit, biar banyak mari kita mulai dari diri kita..

To Bli Budiaryana: iya bli profesionalisme itu implementasi dari jiwa melayani..

kalopun harus akting semoga tetap menikmati aktingnya..sapa tahu nanti jadi bintang film :D :D

banyak orang pintar, tetapi nggak bisa memimpin.
banyak orang banyak yanmg bisa memimpin tetapi tidak pintar....
hayo... pilih yang mana

@sanusi... moga kita diberi pemimpin yang baek..

link uda ditaut balek...matur tengkyu ^_^


lam kenal ea

To Ari: moga bisa bisa saya realisasikan

To Riyanti: matur nuwun juga.

pemahaman2 seperti ini secara disengaja ataupun tidak sudah meLekat erat di masing2 individu yang seLaLu merasa takut tersaingi, akibat dari derasnya kompetensi rivaLitas. sehingga estetika sportifitas kadang terabaikan hanya untuk kepentingan pribadi.

hanya dengan kebesaran jiwa seseorang maka dapat menyikapi itu dengan bijak. yakni, tetap beradaptasi daLam mempersiapkan perbaikan kuaLitas diri namun tidak terkontaminasi dengan agaya kompetitor nakaL.

Okelah kalaubegitu...
let's help each other...
anyway, kaya dangdutan saja, oh, indahnya... :)

setuja. apa sich beratnya merelakan senyum keramahan dan pelayanan serta berlaku baik?..

melayani orang lain memang merupakan pekerjaan yang sangat mulia .

selain indah melayani semua orang dengan baik juga termasuk ibadah dan sangat besar pahalanya .


EmoticonEmoticon