Kamis, 30 September 2010

Trembesi Di Sepanjang Jalan Kudus - Semarang

Setiap kali saya pergi dan pulang kerja atau kuliah di Semarang, perhatianku sedikit atau banyak selalu tersita oleh pohon trembesi yang ada di pinggir jalan. Sejak awal tahun ini, pohon trembersi yang berjumlah 2.767 pohon mulai menghiasi pinggir kanan dan kiri jalan sepanjang jalan Kudus hingga Semarang. Pohon itu kini tingginya sudah dua kali lipat dari tinggi pohon tersebut saat ditanam. Kalo dulu cuma setinggi badanku, kini rata2 tingginya dua kali tinggi badanku. Dan hampir dipastikan pohon yang ditanam bisa hidup semua.

Sebenarnya sebelum pohon trembesi tersebut ditanam oleh sebuah perusahaan rokok terbesar di kota kretek melalui program CSRnya, terlebih dahulu telah ada beberapa mahoni yang tumbuh di sepanjang jalan yang sama. Akan tetapi tak semua bisa tumbuh dan berkembang hingga besar. banyak tanaman yang menjadi kerdil bahkan mati karena kalah oleh tanaman liar di sekitarnya. Dan beberapa lenyap tertebas oleh parang petugas kebersihan, karena tanaman tersebut bercampur dengan tanaman liar dan alang-alang sehingga tak teridentifikasi.

Program penanaman pohon oleh perusahaan swasta itu mengingatkan saya pada program yang sama yang dilakukan oleh pemerintah beberapa tahun yang lalu bersamaan dengan Gerakan tanam sejuta pohon yang dimotori oleh pemerintah pusat. Jumlah pohon yang ditanam sangat banyak, tidak cuma 2000an, bahkan mungkin puluhan ribu. Setiap desa diberi jatah ratusan hingga ribuan pohon. Desa saya termasuk mendapat jatah pohon yang sangat banyak, hingga pada waktu itu aparat desa bingung mau nanam dimana. Di jalan depan desa, jalan-jalan setapak menuju sawah telah tertanami, pinggir lapangan desa, hingga beberapa lahan kosong ditanami.

Namun apa yang terjadi? Dari ribuan pohon yang ditanaman hanya sedikit yang bisa bertahan sampai sekarang. Bahkan di beberapa jalan setapak, tak satupun yang nampak batangnya apalagi pucuk daunya. Berbeda sekali dengan program CSR penanaman pohon trembesi oleh instansi swasta di atas. Jika Pohon trembesi yang ditanam melalui program CSR instansi swasta, 99.9 persen pohonnya bisa tumbuh dan hidup, Namun sebaliknya program penanaman sejuta pohon yang dilakukan pemerintah 99 persen pohonnya justru tak menyisakan akar dan batang.

Mengapa bisa begitu? Satu yang membedakan, "Perawatan". Tak hanya menanam, program CSR perusahaan swasta tersebut juga diikuti program perawatan. Perawatan dilakukan terus menerus hingga pohon trembesi benar-benar hidup. Saya sering menjumpai para petugas pemelihara tanaman sedang merawat pohon trembesi yang telah ditanam. Mereka memberi pupuk, menyiangi rumput, memastikan tiang penyangganya tetap berdiri, hingga mengganti tanaman yang mati dengan yang baru.

Sementara itu, program penanaman sejuta pohon yang dilakukan instansi lain yang pernah saya dengar dari media maupun saya saksikan sendiri,  hanya sekedar menanam tanpa ada tindak lanjut. Program itu sebatas memenuhi agenda. Sehabis itu tak peduli tanaman mengering mati atau habis dimakan kambing.

Ya... merawat emang lebih susah. Dari sini kini bisa kita ambil pelajaran betapa merewat itu sangat penting,  butuh kesabaran dan sikap konsisten. Ini yang membedakan mana yang bener-bener peduli terhadap lingkungan dan mana yang hanya sekedar latah ikut tren sesaat.

Image courtesy: www.djarum.com/treesforlife/

9 Komentar

Iya Mas, saya baca di blognya Mas Eko, pohon trambesi sangat bermanfaat menyerap CO2.
Semoga kota nya tambah bersih dan sejuk ya... :)

sepakat, Ihsan.
perawatanlah yg bisa menyuburkan pohon itu.
di negeri kita memang kurang sekali dlm hal perawatan, bukan hanya hanya ttg pohon, lihatlah telepon umum, toilet umum, dll, dibangun dgn biaya yg besar , tapi hancur begitu saja tak terawat
salam

Gerakan seribu pohon hanya pada saat menanam saja, namun ketika memelihara, kita terlupakan karena tidak ada media yang meliput jadi cuek, sebetulnya diliput ataupun tidak, semangat harus sama ketika menanamnya

To Bli Putu: amien..

To Bunda: moga budaya merawat tertanam dibenak masyarakat kita.

To Bli aryana: betul..

Filosofi yang paling baik adalah filosofi burung dara, yaitu ketika sang betina bertelur sang jantanpun ikut menjaga dan mengerami telurnya. filosofi itu belum terpupuk pada masyarakat kita sehingga banyak proyek dari pemerintah yang terbengkelai.karena pemerintah tidak ada program perawatan dan masyarakatpun tidak peduli akan program tersebut, seperti filosofi bebek yang habis bertelur ditinggal begitu saja.

To Anonim: begitulah pak keadaan kita...

To penguping: saya nggak perlu ngitung kok, cuma dari press release disebutkan segitu.

salut ma nidji...
salam wong demak....

daLam kondisi positif, program tersebut sangat baik diLakukan daLam rangka menghijaukan kembaLi bumi yang sudah muLai kerontang. tetapi di sisi Lain, suLit untuk menumbuhkan tetapi Lebih suLit Lagi untuk merawatnya.

semoga saja pihak2 terkait dapat memperhatikan haL itu, yakni tidak hanya sekedar untuk memenuhi agenda kerja. karena daLam menjaga ekosistem hayati sangat penting untuk mengurangi issue pemanasan gLobaL.


EmoticonEmoticon