Kamis, 19 Agustus 2010

Ritual I'tikaf di Masjid Agung Demak

Oleh : Farodlilah (SM)

SIANG yang terik di minggu pertama Ramadan, Salipah (70), terkantuk-kantuk mendengarkan lantunan ayat suci yang dilafalkan dengan indah oleh seorang hafizah (penghafal al-Qur'an). Meski terlihat lelah, Salipah tak beranjak dari duduknya. Untuk menopang tubuhnya, nenek 13 cucu ini menyandarkan punggungnya pada salah satu tiang di selasar kiri Masjid Agung Demak.

Pukul 14.00, acara semaan Alqur'an itu pun berakhir. Salipah dan sejumlah jamaah lainnya menyalami tangan sang hafizah,
kemudian berjalan menuju "tempat peristirahatan" mereka di sisi barat daya Masjid. Tempat itu sangat sederhana, berupa ruangan terbuka yang berada di sebelah toilet untuk jamaah putri. Di salah satu sisi dinding, bertumpuk tikar pandan dan berjejer sejumlah termos, bekal para jamaah.

Di ruangan terbuka sederhana itulah, Salipah bersama sekitar lima puluh rekannya, beristirahat sejenak, untuk kemudian kembali mengikuti sesi pengajian sore selepas jamaah sholat Ashar. Nenek asal Kadilangu ini tengah menjalani ritual I'tikaf, yakni, menginap dan beraktifitas di Masjid. "Insya Allah sebulan penuh," ujarnya tersenyum saat ditemui di masjid, akhir pekan lalu.

Salipah mengaku, dirinya telah menjalani ritual ini selama empat tahun. "Tepatnya, sejak suami saya meninggal," tuturnya.

Dengan berdiam diri di Masjid, Salipah yang telah memiliki empat orang cicit ini merasa tenang. Di hari tua, dia ingin lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta, terutama di bulan Ramadan. "Sudah tua, sudah bebas dari tanggungan dunia," katanya beralasan.

Selama Ramadan, Salipah meninggalkan kenyamanan rumah dan kehangatan keluarganya di Kadilangu untuk beri'tikaf di masjid. Dia hanya membawa bekal seadanya untuk bertahan hidup selama di masjid. Untuk tidur, nenek yang mengaku berusia 70 tahun ini hanya berbekal tikar pandan tipis, tanpa bantal.

Kebutuhan makanan sahur dan berbuka, dia dan jamaah i'tikaf lainnya seringkali mendapat jatah makan dari pengelola masjid. "Kalaupun tidak dapat jatah, ya, beli. Di depan masjid banyak yang jualan," ujarnya enteng.

Kebutuhan mandi dan mencuci pakaian, dia lakukan di dalam kompleks masjid. "Ya, pokoknya tak boleh keluar masjid," ujarnya.

Laku Salipah sebagai pencari berkah Ramadan diikuti pula oleh Muamanah (75). Yang berbeda, Muamanah tidak menginap di masjid. "Setiap sore selepas pengajian, saya pulang. Esok subuh kembali lagi," tuturnya.

Perempuan renta yang telah memiliki 12 cucu dan 1 cicit ini mengaku, telah sejak lama mengikuti pengajian Ramadan di Masjid Agung Demak. "Rumah saya dekat masjid. Di belakang pasar Bintoro itu. Jadi, ya, memang sering ikut pengajian di sini," ujarnya.

Muamanah mengaku senang mengikuti pengajian di Masjid Agung Demak, karena dirinya dapat beribadah secara maksimal, menghabiskan waktu tuanya dengan bermanfaat. Terlebih selama Ramadan, banyak perempuan seusianya yang datang dari berbagai penjuru Demak untuk beri'tikaf.

Harus menginap
I'tikaf, menurut Imam Abu Bakar ibn Muhammad al-Khusaini, adalah ibadah sunnah yang dianjurkan dilakukan setiap waktu, terutama di sepertiga akhir bulan Ramadan. Ibadah ini, sebagaimana dijelaskan secara rinci dalam kitab karangannya, Kifayatul Akhyar, mensyaratkan seseorang berdiam diri di masjid, tidak boleh keluar dari kompleks bangunan masjid.

Syarat tidak boleh melewati batas bangunan masjid inilah, yang membuat tak semua orang dapat dengan mudah melakukannya. Untuk bisa khusyu beri'tikaf, seseorang memang harus benar-benar "lepas dari tanggungan dunia", seperti kata Salipah.

Sumber & Image Coutesy: Suara Merdeka


EmoticonEmoticon