Minggu, 07 Juni 2009

Demak di Era Hedonisme

Tags

Demak dulu adalah sebuah kerajaan Islam pertama. Pada mulanya agama Islam sulit masuk dalam lingkungan masyarakat Jawa. Setidaknya dua kelompok menjadi tantangan Islam; lingkungan budaya Kejawen dan lingkungan budaya Istana Majapahit. Dengan keadaan yang demikian para penyebar agama Islam menekankan penyebaran dalam lingkungan masyarakat pedesaan, terutama di daerah-daerah pesisiran. (Simuh, 2005).

Dengan menggunakan pendekatan budaya masyarakat pedesaan dan pesirir menerima Islam dengan mudah. Perkembangan selanjutnya adalah munculnya kebudayaan intelektual pesantren yang menjadi saingan kebudayaan intelektual di lingkungan istana Majapahit.

Tradisi pesantren berkembang menjelma menjadi pemerintahan kecil dalam wilayah-wilayah tertentu. Bahkan di antaranya menjelma menjadi kesultanan, yakni kasultanan Demak. Puncaknya adalah kasultanan Demak tumbuh dan menumbangkan kekuasaan Majapahit.

Sampai hari ini masih kita tememukan jejak-jejak kerajaan Demak. Wujud kebudayaan fisik yang masih dapat kita saksikan hingga hari ini adalah Masjid Agung Demak dan makam Kanjeng Sunan Kalijaga di Kadilangu. Demak sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam masih tampak dengan keberadaan pesantren yang tersebar di seluruh penjuru wilayah kabupaten Demak.

Jama’ah-jama’ah pengajian juga hampir ada di setiap kampung. Kesenian bernuansa Islam masih sangat kental di wilayah kabupaten Demak, seperti rebana, kentrung, zipin, kaligrafi, seni baca Al-Qur’an dan lain-lain.

Tapi Demak sekarang adalah Demak yang bingung memilih kebudayaannya. Antara budaya pesantren dengan budaya hedonis yang sedang mengejala. Generasinya adalah generasi yang resah antara kukuh dengan peninggalan masa lalu, berdiam diri bersedeku dalam pondok, atau ikut berjirak bersama alunan musik rock di lapangan Tembiring.

Peci-peci itu telah dilepas, digantikan potongan rambut punk, baju koko dan sarung dilepas digantikan celana dan baju junkis. Jilbab pada kaum perempuannya juga mengalami nasib yang tak jauh berbeda.

Generasi Demak saat ini adalah generasi yang resah dan gamang. Dulu, tempat ini menjadi salah satu pusat intelektualitas pesantren yang mengancam intelektualitas kejawen dan priyayi Majapahit. Sekarang Intelektualitas pesantren mendapat ancaman.

Hedonisme, dan gaya hidup ‘gaul’ merebut sedikit demi sedikit namun pasti perhatian sebagian warga Demak. Pemindahan panitia penyelengara grebeg besar terakhir ini dari Pemkab menjadi swasta dengan tujuan pemenuhan target pendapatan agar lebih tingg membuktikan hal itui. Bintang tamu yang dihadirkan seperti dangdutan, Dara AFI, Didi Kempot tampak jelas bahwa unsur hiburan dan untung belaka yang ingin dicapai.

Mengapa kesenian Demak asli, seperti kentrung, rebana, zipin, seni baca Al Qur’an, dan lomba kaligrafi tidak di munculkan?

Masalah kebudayaan adalah masalah pandangan inferior dan pandangan superior terhadap jenis kebudayaan oleh masyarakatnya. Jika masyarakat Demak sudah menganggap kebudayaan asli lebih rendah nilainya di banding budaya baru maka ini adalah awal hancurnya kebudayaan lama. Kalau masyarakat Demak menganggap rebana lebih rendah mutunya dibanding group band, maka tidak lama lagi rebana akan hilang. Jika orang Demak menganggap tari zipin lebih rendah dari tari-tari modern, maka tidak lama lagi zipin juga akan punah. Jadi solusi yang harus ditempuh untuk menaggulangi kepunahan zipin, rebana, koko, peci dan yang lainnya adalah memperbaiki anggapan masyarakatnya.

Disclaimer: postingan ini saya ambil dari tulisan kolom "suara pembaca" koran Suara Merdeka, ditulis oleh Muhajir Arrosyid sebagai uji coba blog ini.
Link tulisan asli: Koran Suara Merdeka


EmoticonEmoticon